Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

.

Di usia yang masih balita, Ridho harus berjuang mati-matian melawan derita tumor ganas sebesar bola sepak yang bersarang di bokongnya. Cekoot cekooot.. bila nyeri kambuh ia hanya bisa merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus segera dioperasi tapi ayahnya sedang menganggur terdampak pandemic Corona. Ayo Bantu.!!

 

SUKABUMI, Infaq Dakwah Center (IDC) – Sudah empat tahun Muhammad Ridho Ramdani mati-matian berjuang melawan derita tumor ganas tak terperikan. Tak seperti anak seusianya yang bermain ceria, sejak lahir hingga tumbuh berusia empat tahun, ia harus berkutat dengan penyakit tumor yang terus membesar.

Tumor sebesar bola sepak yang bersarang di bokong membuat balita asal Sukabumi ini sulit beraktivitas apapun. Jangankan bermain keluar rumah atau berlari-larian, sekedar duduk saja ia tak sanggup berlama-lama karena kesakitan.

Cekoot cekooot.. bila rasa nyeri datang, ia hanya bisa merintih hingga menangis histeris di pangkuan ayah bundanya.

Muhammad Ependi (37) sang ayah, sangat terpukul dan prihatin atas penyakit yang diderita putra semata wayangnya itu. Sebagai orang tua, ingin rasanya derita itu ia pikul sendiri demi melihat wajah dan senyum ceria sang buah hati.

Berbagai ikhtiar pengobatan telah ditempuhnya sesuai kemampuan ekonominya. Namun usahanya tidak bisa maksimal karena terkendala biaya, sehingga sampai saat ini Ridho tidak bisa menjalani operasi pengangkatan tumor.

Apalagi saat ini Ependi menganggur terdampak pandemik Corona (Covid-19). Jangankan untuk biaya berobat, sekedar memenuhi kebutuhan hidup saja ia kesulitan.

Karenanya, ia sangat bersyukur dengan bantuan Relawan IDC yang setia mengantar jemput dari Sukabumi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

“Terimakasih untuk tim IDC saya, saya tidak bisa membalas apa-apa, hanya doa semoga Allah yang balas semua kebaikan yang sudah di berikan kepada keluarga kami,” ujarnya di rumah sakit, Jum’at (19/6/2020). “Anak saya menderita sakit, ada benjolan di pantatnya dari bawaan lahir. Selama anak saya tumbuh besar, benjolannya juga membesar,” terangnya.

...Ia sedang menganggur terdampak pandemik Corona. Jangankan untuk biaya berobat, sekedar memenuhi kebutuhan hidup saja ia kesulitan...

Berusaha Optimis di Tengah Himpitan Ekonomis

Meski dalam kondisi kekurangan dan harus menanggung beban putranya yang sakit, ia tetap optimis. Pria yang taat beribadah ini tak lupa menghaturkan doa di setiap shalat, demi kesembuhan putra tercintanya. Ia pun ridho diberi ujian, seperti nama putranya.

Di tengah kondisi yang serba sulit, Ependi kini tinggal mengontrak sebuah kamar kost sempit berukuran 2 x 3 meter bersama anak dan istrinya. Mereka tidur di atas sehelai kasur lipat, dihiasi lemari plastik tempat pakaian dan sebuah dispenser. Dari sisi kesehatan, kamar kos yang sumpek itu jauh dari layak, bila digunakan untuk merawat anak balita yang tengah sakit parah. Tak punya pilihan, mereka memilih tinggal di rumah kost tersebut karena jaraknya yang dekat dengan pabrik sepatu, tempat sang istri mengais rejeki sebagai buruh.

Sementara Nelis Rustini (25) ibunda Muhammad Ridho, tak sanggup menahan cucuran air mata bila melihat penderitaan yang dialami anak satu-satunya itu. Pasalnya, bukan hanya rasa sakit fisik yang dikeluhkan, tetapi tekanan psikologis bagi sang anak juga amat dirasakan.

...Saya sering nangis dengan ngeluhnya anak saya. Tumornya makin membesar, anak saya ingin cepat-cepat dioperasi...

“Saya sering nangis dengan ngeluhnya anak saya. Kadang anak saya suka bilang, katanya ingin dibuang penyakitnya karena malu suka dihina sama orang lain. Mungkin karena tumornya makin membesar, anak saya suka bilang ingin cepat-cepat dioperasi,” ujar Nelis berurai air mata.

Nelis berharap tumor yang diderita Ridho bisa secepatnya dioperasi, agar balita yang tengah lucu-lucunya itu lekas pulih dan bermain riang seperti anak-anak sebayanya.

“Saya kasihan, anak saya suka tidak percaya diri kalau main sama temannya, jadi jarang keluar main sama teman-temannya karena malu sama penyakitnya. Harapannya anak saya bisa sembuh kembali seperti anak yang lain semoga dengan adanya operasi ini, mudah-mudahan lancar, anak saya bisa sembuh, bisa bermain bersama anak-anak yang lain,” ungkap Nelis sambil menyeka air mata.

Ridho harus dioperasi pengangkatan tumor, namun terkendala biaya transport dan obat-obat yang tidak ditanggung BPJS. Untuk sekali kontrol atau berobat ke RSHS Bandung, sekurang-kurangnya harus disiapkan dana satu juta rupiah untuk transportasi, sewa mobil, biaya penginapan (akomodasi), konsumsi, dan sebagainya.

INFAQ DARURAT PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM

Ujian musibah yang menimpa ananda ananda Muhammad Ridho Ramdani adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya...” (HR Muslim).

Donasi untuk membantu pengobatan ananda Ibrahim Al-Rusydi bisa disalurkan melalui program INFAQ DARURAT ke Rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqdakwahcenter.com.
  • Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Video: https://youtu.be/AvYui1JyHwI.
  • Info: 08122.700020.

BERITA DETAIL:

http://www.infaqdakwahcenter.com/read/idc/906/ridho-pejuang-tumor/