Kabar Duka Syuhada: Ummi Nurhalimah Janda Mujahid Wafat, Kedua Anaknya Jadi Yatim Piatu

JAKARTA (idc.voa-islam.com) – Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah Ummi Nurhalimah, janda asy-syahid insya Allah Ahmad Maulana, Selasa malam (18/9/2012). Semoga Allah SWT melimpahkan karunia rahmat, ridha, maghfirah dan surga-Nya kepada almarhumah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Aamiin.

Almarhumah meninggalkan dua orang anak: Ahmad Dahlan (11 tahun) dan Navis Rofa’ul-Haqq (2 tahun). Dua tahun lalu mereka menjadi anak yatim ketika sang ayah tercinta, mujahid Ahmad Said Maulana gugur syahid –insya Allah– dalam aktivitas jihad bersama Kafilah Mujahidin Aceh. Kini, Dahlan dan Navis menjadi yatim piatu.

Mari ulurkan tangan kepedulian untuk anak yatim generasi Mujahid Dakwah. Sampaikan infaq untuk biaya hidup dan pendidikan terbaik untuk ananda  Ahmad Dahlan dan Navis Rofa’ul-Haqq.

Donasi bisa menyalurkan donasi melalui rekening IDC:

  1. Bank Muamalat Indonesia (BMI),  No.Rek. 0132465841 a/n Budi Haryanto
  2. Bank Syariah Mandiri (BSM),  No.Rek: 0120043587 a/n Budi Haryanto
  3. Bank Mandiri, No.Rek: 0060006012623 a/n Budi Haryanto
  4. BCA (Bank Central Asia),  No.Rek: 6310230497 a/n Budi Haryanto

Demi kedisiplinan amanah serta untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan dana lainnya, tambahkan nominal unik Rp 2.111 (dua ribu seratus sebelas). Misalnya: Rp 1.002. 111, Rp 502. 111, Rp 202. 111, Rp 102. 111, dan seterusnya.

Info dan konfirmasi bisa menghubungi Mumtaz (08999.704050), dan laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: idc.voa-islam.com.

Dengan berinfak kepada anak Yatim, semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam surga bersama Rasulullah SAW sedekat dua jari, sesuai sabdanya:

“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti dua jari ini” (HR. Bukhari). Rasulullah bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya.

Kabar Duka Keluarga Syuhada

Dalam rapat internal Infaq Dakwah Club (IDC) voa-islam, Ahad malam (16/9/2012) salah satu relawan IDC menyampaikan kabar bahwa sakit Nurhalimah kambuh. Karena beberapa urusan dan padatnya jadwal, maka Tim IDC baru bisa meluncur membezuk Nurhalimah pada Selasa (18/9/2012).

Saat IDC tiba di Klinik As-Salam Cikretek Bogor, siang itu kondisi Nurhalimah sudah sangat kritis. Tubuhnya tergolek lemah tak sadarkan diri, selang infus dan oksigen untuk membantu pernafasan masih terpsang di lengan dan hidungnya. Di meja tergeletak empat botol infus kosong yang sudah dipakai sejak Senin malam.

Badannya sangat kurus, menurut Pak Ayub, ayahandanya, sudah sepuluh hari Nurhalimah tidak bisa makan. Ia selalu muntah bila mengonsumsi makanan. Sebagai pengganti makanan, keluarga hanya memberikan madu dan sari kurma. Otomatis, obat-obatan yang biasanya rutin dikonsumsi pun distop.

Sebelum magrib, Tim IDC pamitan pulang ke Jakarta untuk melaporkan kondisi Nurhalimah kepada Direktur IDC guna tindakan medis selanjutnya. Beberapaa menit setelah tiba di Jakarta, Pak Ayub mengabarkan bahwa Nurhalimah sudah menghembuskan nafas terakhir untuk menemui Rabbnya sekitar pukul 21.37 WIB.

Beberapa bulan lalu, Ahad sore (17/6/2012) Nurhalimah sempat mengalami kritis sehingga harus dilarikan IDC ke UGD Rumah Sakit Haji Jakarta (baca: Janda Mujahid Tergolek Kritis di Rumah Sakit, Butuh Uluran Tangan Kita) dan nyawanya masih bisa tertolong. Alhamdulillah atas bantuan muhsinin IDC, seluruh biaya rawat inap, pengobatan dan rawat jalan sudah dapat diatasi (baca: Sumbangan Rp 37 Juta Sudah Diserahkan untuk Pengobatan Janda Mujahid).

Kondisi Nurhalimah saat itu sedang kritis. Badannya kurus, nafasnya tersengal-sengal dan beberapa benjolan kelenjar tumbuh di beberapa organ. Berdasarkan hasil rontgent, Nurhalimah mengidap TBC Kelenjar dan sudah menyerang paru-paru.

Setelah dirawat selama 12 hari, kondisi kesehatan Nurhalimah sudah jauh lebih baik dan diperkenankan pulang pada Jum’at (29/6/2012). Untuk pemulihan kesehatan, Nurhalimah menempuh berobat jalan dengan minum obat-obatan dan diberi obat suntik serta kontrol kesehatan ke rumah sakit tiga hari sekali.

Untuk memaksimalkan penyembuhan, IDC membawa Nurhalimah berobat ke Klinik Al-Ikhlas Bekasi yang menerapkan pengobatan Thibbun Nabawi selama sepekan. Selanjutnya Nurhalimah tidak pulang ke Bogor, melainkan pulang ke rumah saudaranya di Cikarang, untuk memudahkan transportasi rawat jalan ke RS Haji Jakarta.

Setelah kondisinya membaik, Nurhalimah pun kembali pulang ke kampung halamannya, Kampung Ciherang Satim, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Qadarullah, Allah berkehendak lain. Jelang Ramadhan lalu, kondisi alumnus Pesantren Muslimat Al-Huda Bogor ini kembali menurun. Di tanah kelahirannya inilah janda mujahid ini menemui Rabnya, menyusul jejak suami tercintanya, As-Syahid Ahmad Maulana.

"Allahumaghfirlaha warhamha wa aafiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha wawassi’ madkholaha wagh-silha bil-ma’in wats-tsalji wal-barod. Wanaqqiha minal khataya kama yunaqqats-tsaubal abyadhu minad danas, wa abdilha daaron khairan min daariha, wa ahlan khairan min ahliha, wa zaujan khairan min zaujiha, wa adkhilhul-jannata, wa a'idhu nin ‘adzaabil qabri.”

Napak Tilas Perjalanan Jihad (alm.) Ahmad Maulana

Ahmad Said Maulana adalah sosok perindu surga yang sangat mencintai perjuangan jihad membela kaum muslimin yang tertindas. Kiprah jihadnya dimulai ketika ribuan umat Islam Ambon dibantai Salibis saat shalat Idul Fitri tahun 1998. Maulana terjun ke medan jihad Ambon pada generasi awal di tahun 1999. Dua tahun kemudian, ketika umat Islam di Poso dibantai salibis, Maulana pindah haluan ke medan jihad di Poso mulai tahun 2000.

Di kalangan mujahidin Ambon dan Poso, Maulana dikenal sebagai sosok yang penuh keteladanan jihad. Karena kepribadiannya yang sabar, setia kawan, dan sangat kuat tekadnya, ia sering menjabat sebagai komandan perang dalam berbagai pertempuran melawan salibis.

Setelah konflik Poso reda, tahun 2003 Maulana yang haus jihad itu berangkat ke Filipina untuk membantu jihad di Moro. Naasnya, dalam perjalanan pulang dari Filipina melalui Malaysia, Maulana ditangkap di Malaysia dan dijerat dengan Undang-undang Keamanan Dalam Negeri Malaysia (ISA). Maulana pun mendekam lima tahun di penjara Malaysia yang terkenal jauh lebih kejam daripada penjara Indonesia.

…Kejamnya penjara, ternyata tak membuat Maulana jera dalam perjuangan jihad fisabilillah…

Tahun 2008 akhir, Maulana dibebaskan dan pulang ke Indonesia. Kejamnya penjara Malaysia, ternyata tak membuat Maulana jera dalam perjuangan jihad fisabilillah.

Akhirnya, tahun 2010 Maulana bergabung dengan Kafilah Mujahidin Aceh. Dalam kelompok yang disebut-sebut sebagai “Tandzhim Al-Qaidah Serambi Mekkah” ini, Maulana menjadi salah satu tokoh penting dalam I’dad di pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar. Perjalanan jihad Maulana terhenti saat nafasnya berhenti

Maulana gugur ditembak thaghut pada hari Rabu (13/5/2010), sekitar pukul 12.00 WIB di Cawang, bersama dua laki-laki lainnya, dengan tuduhan terorisme tanpa dibuktikan apa kesalahannya. Bahkan hingga di pemakamannya, dua orang pria itu tak dikenali identitasnya, sehingga dua pria tak teridentifikasi itu diberi nama MR. X-I/CWG/0001 dan MR. X-I/CWG/0002.

Tindakan semena-mena Densus itu mendapat protes dari banyak tokoh. KH Mudzakkir mengecam tindakan semena-mena Densus yang menembak mati ketiga mujahid itu. Bahkan Pimpinan Ponpes Al-Islam Solo ini mengimbau umat Islam agar tidak mudah percaya kepada berita dari aparat kepolisian yang menyangkut kasus terorisme. Ia meragukan kejujuran aparat kepolisian soal tuduhan teroris terhadap tiga orang aktivis Islam yang ditembak mati di Cawang. Pasalnya, setelah dua orang pemuda itu dibunuh dengan tuduhan teroris, polisi tak bisa menunjukkan identitas, nama dan alamat dua orang tersebut. Bahkan ketika dikuburkan di Pondok Ranggon Jakarta Timur, pada Selasa (8/5/2010), polisi hanya bisa memberi label Mr X-1 dan Mr X-2 di nisan kuburan. “Mereka membunuh dua orang yang disangka teroris tapi tidak tahu siapa namanya dan di mana alamatnya, lalu kedua jenazahnya dikuburkan dengan diberi label Mr X1 dan Mr X2,” gugatnya.

Dengan validitas yang tidak shahih seperti itu, ujar Mudzakir, maka umat Islam dilarang keras percaya dengan informasi polisi terkait berita terorisme. “Kelakuan Densus yang seperti itu, apakah kita harus percaya kepada orang seperti itu? Maaf saja, keyakinan kami melarang untuk percaya kepada mereka-mereka itu. Kita disuruh Allah untuk tidak mempercayai omongan mereka itu,” pungkasnya.

…Di lengan dan paha Maulana terdapat bekas luka senjata tajam. Luka ini adalah saksi jihad, ia terkena tombak dan panah saat berjihad di Ambon…

Tak heran jika DPP FPI bersuara lantang mendesak agar Komisi III meminta pertanggungjawaban Densus 88 dan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri terkait 2 terduga teroris yang ditembak di Cawang. Kinerja kepolisian patut dipertanyakan karena berani menuduh dua orang sebagai teroris, padahal sampai dimakamkan di TPU Pondok Rangon, polisi tak mengetahui identitas orang yang ditembak mati itu.

“Dua orang dulu diklaim memiliki hubungan dengan teroris. Kedua orang ini dimakamkan di Pondok Rangon dengan nama Mr X. Ini perlu diusut karena ini menyangkut nyawa seseorang,” kata Ketua Nahi Munkar Front Pembela Islam (FPI), Munarman, saat melakukan audiensi dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (31/8/2010).

Isyarat Kesyahidan Ahmad Maulana

Setelah ditembak mati aparat thaghut dan disemayamkan di RS Polri selama seminggu, Maulana dimakamkan di kampung halamannya, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Petir Pamulang Tangerang, Selasa (18/5/2010).

Cap teroris yang disematkan aparat kepada Maulana, sama sekali tidak menyurutkan umat Islam untuk mempahlawankan Maulana sebagai sosok mujahid. Dengan penuh duka, khalayak sangat antusias mengikuti prosesi pemakaman dari shalat jenazah hingga penguburan. Dalam pemakaman, berulang kali massa mengumandangkan takbir.

…Saat dimandikan, terjadi keajaiban dalam jenazah Maulana. Darah segar masih mengalir dari mulut dan lubang telinganya, padahal sudah hampir seminggu ditembak mati oleh Densus...

Saat dimandikan, menurut laporan muslimdaily.net, terjadi keajaiban dalam jenazah Maulana. Nampak darah segar masih mengalir dari mulut dan lubang telinganya, padahal sudah hampir seminggu menjadi korban peluru Densus 88.

Di lengan tangan dan paha Maulana terdapat bekas luka senjata tajam. Luka ini adalah saksi jihad Maulana, yang terkena tombak dan panah saat berjihad di Pulau Buru, Ambon (1999-2000).

Semasa hidupnya, Maulana menggadaikan jiwa dan raganya untuk Islam dan kaum muslimin. Kini Maulana dan istrinya wafat meninggalkan dua anak yang berstatus yatim piatu. [A. Azka Izzatillah]

Share this post..
  • Apa itu IDC ?

    Infaq Dakwah Center (IDC) adalah lembaga independen yang berkhidmat untuk memfasilitasi kaum muslimin dalam menyalurkan infaq dan shadaqah secara tepat, produktif dan multiguna kepada pihak-pihak yang membutuhkan (mustahiq), untuk menunjang dakwah dan pemberdayaan umat Islam.

    more info
  • Visi & Misi

    Mewujudkan kemaslahatan umat untuk mendorong kemajuan dakwah. Optimalisasi dana umat untuk mengatasi problematika dakwah dan keummatan. Soliditas ukhuwah Islamiyah untuk membantu yatim, dhuafa, dan kalangan tertimpa musibah. Sinergi jaringan pendukung dan pelaku dakwah.

    more info
  • Program IDC

    PROGRAM DAKWAH
    Pengiriman Dai Khusus ke daerah terasing, pembinaan muallaf, dakwah media cetak & online.
    PROGRAM SOSIAL DAN KEMANUSIAAN
    Pengobatan & khitanan massal, tanggap darurat bencana, tebar qurban, santunan fakir miskin, yatim dan dhuafa.
    PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
    Beasiswa yatim & dhuafa, pelatihan kewirausahaan bagi aktivis dakwah...

    more info
  • Produk IDC

    Infaq Dakwah Terpadu Beasiswa Yatim dan Dhuafa Infaq Darurat & Tanggap Bencana Solidaritas Keluarga Syuhada & Mujahidin Solidaritas Kemanusiaan Muslim Dunia Infaq Produktif Pemberdayaan Ekonomi Umat Tebar Qurban dan Aqiqah

    more info
  • Kiprah IDC

    Beasiswa yatim & dhuafa Qurban di daerah rawan pemurtadan & daerah binaan dakwah. Recovery dan dakwah umat Islam Ambon Maluku pasca pembantaian dan penyerbuan dari pihak Salibis Renovasi rumah dhuafa & aktivis Islam. Bantuan pengobatan para muallaf & kaum dhuafa. Bakti sosial, pengobatan massal & khitanan massal. Tanggap darurat bencana banjir.

    more info
  • Ayo Jadi Member IDC S3

    Fasilitas bagi kaum muslimin yang tidak punya kemampuan, keahlian dan waktu luang tapi ingin berdakwah, membina anak yatim, membantu kaum tertimpa musibah, membangun sarana ibadah dll. Siapapun bisa berdakwah, beramal dan berjuang menegakkan Syariat Islam, tanpa turun ke lapangan dan tanpa resiko.

    more info

Kontak IDC

  • Kantor: Jl. Veteran No. 48 Bekasi
    (Samping Masjid Agung Al-Barkah Bekasi)
  • SMS Centre: 08999.704050
  • Telepon: 021 – 2640.1004, 085210.700020
  • Email: idc@voa-islam.com
  • Facebook: IDC - Infaq Dakwah Center
  • Twitter: @IDCinfaqCenter
  • PIN BB: 26FF7555

Spesial Donasi Cinta Yatim Syuhada & Mujahidin

Bank Muamalat No.rek: 34.7000.3006
a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center

Rekening IDC

Bank Muamalat
No.Rek. 34.7000.3005
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank Syariah Mandiri (BSM)
No.Rek: 7050.888.422
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

BNI Syariah
No.Rek: 293.985.605
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank Mandiri
No.Rek: 156.000.728.728.9
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank BRI
No.Rek: 0139.0100.1736.302
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank BCA
No.Rek: 631.0230.497
a/n Budi Haryanto (Bendahara IDC)