Tanggal 9-10 Muharram adalah Hari Tasu’a dan ‘Asyura. Ayo Puasa Sunnah

 

Tanggal 9 dan 10 Muharram adalah hari Tasu’a dan Asyura. Tahun 2016 ini, ada yang meyakini hari Tasu'a dan Asyura bertepatan tanggal 10-11 Oktober (Senin-Selasa), ada juga yang meyakini bertepatan tanggal 12-13 Oktober (Selasa-Rabu). Mari berpuasa sunnah Tasu'a dan 'Asyura, keutamaannya bisa menghapus dosa selama satu tahun yang lalu.

Allah Ta'ala menjelaskan dalam Al-Qur'an, bahwa Dia telah menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36)

Larangan "Janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu," menunjukkan bahwa mengerjakan perbuatan maksiat pada empat bulan ini dosanya lebih besar dibandingkan maksiat pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya.

Salah satu amal shalih yang dianjurkan Nabi SAW untuk dikerjakan pada bulan ini adalah ibadah puasa (shaum). Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu” (HR. Muslim, no. 1982).

...Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram...

 

PUASA TASU’A DAN ‘ASYURA

Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya puasa ‘Asyura, dengan keutamaan bisa menghapuskan dosa setahun pada masa lalu. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram.

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu” (HR. Muslim no. 1975).

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

"Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, maka beliau bersabda: “Puasa 'Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

Ibnu Abbas RA mengabarkan semangat puasa Nabi SAW sebagai berikut:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi SAW bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

LENGKAPI PUASA ‘ASYURA DENGAN PUASA TASU’A

Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang melaksanakan puasa ‘Asyura, untuk melengkapi dengan puasa Tasu’a sehari sebelumnya. Puasa pada tanggal 9 Muharram ini disyariatkan untuk menyelisihi syariat puasa Yahudi dan Nasrani.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkomentar, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi SAW sudah wafat” (HR. Muslim no. 1916).

Imam Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berkata: “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi SAW telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Imam Nawawi rahimahullaah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasu’a:

  1. Untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.
  2. Untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.
  3. Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.

 

HUKUM BERPUASA ‘ASYURA SAJA TANPA PUASA TASU’A

Meski disunnahkan berpuasa Tasu’a, namun terkadang seseorang tidak ingat atau memiliki halangan untuk berpuasa Tasu’a, seperti sakit, bepergian, ada pekerjaan yang berat, atau alasan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban terhadap persoalan ini: “Puasa hari ‘Asyura menjadi kafarat (penghapus) dosa selama satu tahun dan tidak dimakruhkan berpuasa pada hari itu saja” (Al-Fatawa Al-Kubra Juz IV; Ikhtiyarat, hlm. 10).

Senada itu, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj juga menyimpulkan bahwa tidak apa-apa berpuasa pada hari itu saja.

Lajnah Daimah, lembaga riset Ilmiyah dan fatwa yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah juga menyatakan pembolehan puasa ‘Asyura saja tanpa puasa Tasu’a (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah Lil-Buhuts al-Ilmiyah wal-Ifta’: 10/401).

Jadi, berpuasa pada hari ‘Asyura saja tanpa menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya dibolehkan. Tapi yang lebih utama adalah menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya.

 

CARA MELAKUKAN PUASA ASYURA

Puasa ‘Asyura bisa dilakukan dengan tiga cara, antara lain:

PERTAMA: Mengiringi puasa Asyura dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. Jadi puasa tiga hari yaitu  tanggal 9, 10 dan 11 Muharrom. Inilah yang paling sempurna.

DR Said bin Ali Al-Qohthon dalam kitab As-Shiyam fil Islam halaman 364 mendukung cara pertama ini dengan beberapa argumen berikut:

  1. Sebagai kehati-hatian. Karena bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari. Apabila tidak diketahui penetapan awal bulan dengan tepat, maka berpuasa pada tanggal 11-nya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapati puasa Tasu’a (tanggal 9) dan puasa ‘Asyura (tanggal 10).
  2. Dia akan mendapat pahala puasa tiga hari dalam sebulan, sehingga baginya pahala puasa sebulan penuh (sesuaihadits riwayat Muslim 1162).
  3. Dia akan berpuasa tiga hari pada bulan Muharrom yang mana nabi telah mengatakan: Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram” (HR. Muslim 1163).
  4. Tercapai tujuan dalam menyelisihi orang Yahudi, tidak hanya puasa ‘Asyura, akan tetapi menyertakan hari lainnya juga (Fathul Bari 4/245, Syarah Riyadhus Shalihin, Ibnu Utsaimin 5/305).

KEDUA: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram (puasa Tasu’a dan Asyura), sesuai dengan petunjuk dalam banyak hadits Nabi SAW.

KETIGA: Berpuasa pada hari ‘Asyura tanggal 10 Muharram saja. Wallahu Ta’ala A’lam

(disadur dari rubrik Islamia voa-islam.com & www.muslim.or.id)


Info Dakwah Lain:

  • Apa itu IDC ?

    Infaq Dakwah Center (IDC) adalah lembaga independen yang berkhidmat untuk memfasilitasi kaum muslimin dalam menyalurkan infaq dan shadaqah secara tepat, produktif dan multiguna kepada pihak-pihak yang membutuhkan (mustahiq), untuk menunjang dakwah dan pemberdayaan umat Islam.

    more info
  • Visi & Misi

    Mewujudkan kemaslahatan umat untuk mendorong kemajuan dakwah. Optimalisasi dana umat untuk mengatasi problematika dakwah dan keummatan. Soliditas ukhuwah Islamiyah untuk membantu yatim, dhuafa, dan kalangan tertimpa musibah. Sinergi jaringan pendukung dan pelaku dakwah.

    more info
  • Program IDC

    PROGRAM DAKWAH
    Pengiriman Dai Khusus ke daerah terasing, pembinaan muallaf, dakwah media cetak & online.
    PROGRAM SOSIAL DAN KEMANUSIAAN
    Pengobatan & khitanan massal, tanggap darurat bencana, tebar qurban, santunan fakir miskin, yatim dan dhuafa.
    PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
    Beasiswa yatim & dhuafa, pelatihan kewirausahaan bagi aktivis dakwah...

    more info
  • Produk IDC

    Infaq Dakwah Terpadu Beasiswa Yatim dan Dhuafa Infaq Darurat & Tanggap Bencana Solidaritas Keluarga Syuhada & Mujahidin Solidaritas Kemanusiaan Muslim Dunia Infaq Produktif Pemberdayaan Ekonomi Umat Tebar Qurban dan Aqiqah

    more info
  • Kiprah IDC

    Beasiswa yatim & dhuafa Qurban di daerah rawan pemurtadan & daerah binaan dakwah. Recovery dan dakwah umat Islam Ambon Maluku pasca pembantaian dan penyerbuan dari pihak Salibis Renovasi rumah dhuafa & aktivis Islam. Bantuan pengobatan para muallaf & kaum dhuafa. Bakti sosial, pengobatan massal & khitanan massal. Tanggap darurat bencana banjir.

    more info
  • Ayo Jadi Member IDC S3

    Fasilitas bagi kaum muslimin yang tidak punya kemampuan, keahlian dan waktu luang tapi ingin berdakwah, membina anak yatim, membantu kaum tertimpa musibah, membangun sarana ibadah dll. Siapapun bisa berdakwah, beramal dan berjuang menegakkan Syariat Islam, tanpa turun ke lapangan dan tanpa resiko.

    more info
Testimoni

Kontak IDC

  • Kantor: Jl. Veteran No. 48 Bekasi
    (Samping Masjid Agung Al-Barkah Bekasi)
  • SMS/WA/Tele/Line: 08122.700020
  • Mobile: 08567.700020, 08175.700020
  • Sedekah Buku Club: 08999.704050
  • Email: idc.pusat@gmail.com, idc.pusat@yahoo.com
  • Facebook: IDC - Infaq Dakwah Center
  • Twitter: @IDCinfaqCenter
  • Instagram: @infaqdakwahcenter

Rekening IDC

Bank Muamalat
No.Rek. 34.7000.3005
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank Syariah Mandiri (BSM)
No.Rek: 7050.888.422
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

BNI Syariah
No.Rek: 293.985.605
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank Mandiri
No.Rek: 156.000.728.728.9
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank BRI
No.Rek: 0139.0100.1736.302
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank CIMB Niaga
No.Rek: 675.0100.407.006
a/n Yayasan Infaq Dakwah Center

Bank BCA
No.Rek: 631.0230.497
a/n Budi Haryanto (Bendahara IDC)